Joiway i1 Review: Pod Freebase 1500mAh, Flavor & Daily Use

DISCLAIMER : REVIEW INI DIBUAT BERDASARKAN SUDUT PANDANG SAYA SEBAGAI PENGGUNA, DIBUAT SE-OBJEKTIF MUNGKIN.

Joiway i1 pod device
Editan, tapi bukan AI

Pod device zaman sekarang sudah mengalami banyak perkembangan. Nggak cuma terbatas untuk penggunaan liquid salt nicotine, sekarang sudah banyak pod device yang bisa digunakan dengan liquid freebase, tentunya selama tersedia opsi cartridge dengan resistensi yang sesuai.

Produsennya semakin banyak, pilihan produknya apalagi.

Tapi justru disitu masalahnya. User punya banyak pertimbangan sebelum akhirnya memutuskan memilih sebuah produk. Mulai dari wujud produknya, harga, ketersediaan device dan cartridge, durability device maupun cartridge, sampai layanan aftersales.

Saya yakin, hampir semua user pernah punya pemikiran yang sama:

“Terlanjur beli, ternyata zonk.”

Takut kecewa dan salah pilih.

Apalagi di kondisi ekonomi sekarang. Semua serba nggak mudah. Cari duit nggak semudah yang dibayangkan, tapi buat mengeluarkannya kadang gampang banget.

Jadi sebelum membeli sebuah device, menurut saya wajar kalau kita nggak cuma melihat spesifikasi atau sekadar ikut tren. Yang lebih penting adalah apakah produk tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi kita.

 

Tampilan Joiway i1 Saat Dipegang Tangan
Tampak Depan

KENAPA JOIWAY i1?

Sewaktu saya mampir ke vapestore langganan, kebetulan Joiway sedang buka mini booth untuk open tester. Ada beberapa device yang bisa dicoba, salah satunya si i1.

Pikir saya, selama nyobainnya gratis, apa salahnya?

Saya langsung ajak ngobrol staff-nya dan cerita kalau memang sedang mencari pod untuk dipakai dengan liquid freebase. Nggak lama, saya disodori i1 ini untuk dicoba.

Saya diminta mencoba dua cartridge 0,4 Ohm yang sudah diisi dua liquid berbeda. Satu creamy pastry dan satunya fruity dingin. Sayangnya, ketika saya tanya lebih lanjut, staff-nya nggak menyebutkan secara spesifik merek liquid yang digunakan.

Impresi pertama saat mencoba ternyata cukup memenuhi apa yang saya cari. Dari segi karakter flavor dan kenyamanan, keduanya cocok dengan preferensi saya.


Jaminan Garansi Produk Joiway
Gambar pecah dikit

Tapi… nggak berhenti di situ.

Saya coba tanya lebih jauh mengenai produknya. Salah satu poin yang menurut saya menarik adalah Joiway berani memberikan garansi seumur hidup untuk cacat produk pada device, selama kerusakan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan user.

Misalnya, ketika membeli dan saat unboxing ternyata device nggak mau menyala, mereka bersedia mengganti device tersebut dengan unit baru. Tentunya dengan syarat box dan nota pembelian masih lengkap.

Menurut saya, ini menjadi nilai plus yang cukup menarik.

Soalnya, ada beberapa produsen yang memang memberikan garansi unit, tapi waktunya terbatas. Belum lagi proses klaim yang kadang lama, ribet, dan responnya yang lambat.

Tapi garansi seumur hidup?

Jujur, buat saya ini cukup berani.

 

i1 SEBAGAI DAILY DEVICE

Dari pengalaman open tester tadi, akhirnya saya putuskan untuk memboyong pulang satu unit i1 untuk digunakan sebagai daily device.

Tapi namanya nyobain di booth tentu akan berbeda dengan menggunakan produk ketika sudah dibeli. Di sini baru kelihatan apakah impresi pertama saya terhadap i1 memang selaras dengan pengalaman setelah dipakai sehari-hari.


Tampak belakang pod Joiway i1
Tampak Belakang

SOAL BENTUK & KENYAMANAN

Dimensinya terbilang pas ketika digenggam. Walaupun memang secara bobot agak berat karena material bodinya menggunakan zinc alloy. Tapi bukan masalah buat saya, malah kesannya jadi barang premium.

Finishing bodinya juga bagus. Bukan tipe yang ketika digenggam lama-lama bakal terasa licin. Ditambah aksen leather di bagian depan dan belakang bodi, jadi makin kelihatan cakep. Nggak semua varian warna menggunakan aksen leather ya. Kalau nggak salah, cuma dua warna yang menggunakannya.

Masuk kantong baju maupun celana masih aman. Mau dikalungin pun juga bisa, karena di paket pembelian sudah dikasih lanyard.

LED indikatornya berada di tengah bodi pod. Bentuknya memanjang, tapi ternyata nggak semua bagian LED tersebut menyala. Entah kenapa mesti dibikin panjang banget. Cuma setengah lebih sedikit bagian memanjang ke bawah yang menyala setiap kali dipuff, saat cartridge dipasang, atau ketika mengganti mode.

Autodraw-nya juga berfungsi dengan baik. Nggak terasa ada delay sepersekian detik. Lancar jaya. Pod ini nggak punya tombol, jadi satu-satunya cara untuk menggunakannya memang lewat autodraw.

Slider airflow-nya agak seret. Ya... mungkin karena masih baru juga, tapi sejauh ini masih fungsional. Terasa ada perbedaan tiap posisi slider diubah, jadi ga cuman gimmick semata.


Joiway i1 menggunakan liquid freebase nicotine
Dipakein freebase 40PG / 60VG

SOAL RASA & TARIKAN

Cartridge 0,4 Ohm saya pakai dengan liquid ELPRO Blueberry Cheesecake 6mg, sedangkan yang 0,8 Ohm menggunakan MANHATTAN French 9mg. Keduanya sama-sama liquid freebase dengan rasio 50/50, dan saya sudah cukup familiar dengan karakter flavor kedua liquid ini.

Di 0,4 Ohm, flavor-nya cukup memuaskan. Blueberry dominan, diikuti cheesecake yang terasa medium. Throat hit cuma terasa di awal drip. Gatel-gatel tipis, tapi setelah 4x puff ke atas sudah nggak terlalu terasa. Headbuzz tetap ada.

Polanya naik perlahan. Semakin sering dipuff, semakin terasa di kepala. Tarikannya juga halus, bukan yang sekali puff langsung galak.

Slow... enak buat nyantai.

Airflow-nya nggak saya ubah, tetap terbuka full dan masih terasa cukup padat.

Manis?

Ada, tapi tergolong sedikit. Sesuai standar bawaan liquid-nya saja. Nggak diboost. Lebih condong menjaga layer flavor.

Pindah ke 0,8 Ohm, flavor-nya juga pas. Dominan vanilla dibalut rum, sementara cake keluar tipis-tipis sebagai hint pelengkap.

Throat hit terasa sama, galak diawal saja. Tapi headbuzz atau nicotine hit-nya naik jadi sedikit lebih galak. Tiap puff juga masih terasa halus. Setting airflow ditutup setengah sudah pas buat saya.

Manis?

Tipis banget. Sesuai bawaan liquid-nya saja.


Cartridge Joiway i1 0,4Ohm
Cartridge Joiway i1 0,8Ohm
0,4Ohm base merah & 0,8Ohm base hitam

KETAHANAN CARTRIDGE JOIWAY i1

Dengan standar pemakaian saya pribadi, kedua cartridge 0,4 Ohm dan 0,8 Ohm bisa bertahan 2 minggu. Kalaupun dipaksa ya… 2 minggu lebih 3 hari baru ganti.

Saya bukan tipe orang yang tiap menit nge-puff, tapi sekali puff nariknya lumayan panjang.

Pernah coba coba buat chainpuff juga ternyata aman, ga ada bubbling, gurgling, apalagi dry hit. Daya resapnya termasuk cepet.

Ingat ya! Standar anjuran penggantian cartridge itu 2 minggu. Supaya kalian tetep dapat flavor yang oke. Jangan dipaksa sampe sebulan! Rasanya udah gajelas.

Selama pakai 0,4 Ohm saya perhatikan ga ada sisa kondensasi yang numpuk diarea pin atomizer. Kering.

Di 0,8 Ohm cuma ada setitik aja, kecil dan ga bertambah besok besoknya.

Leaking juga ga terjadi pada keduanya. Bagian bawah cartridge tetep kering.

Joiway i1 tidak ada kondensasi dan leaking
Kering tanpa harus sedia tissue

BATERAI 1500mAh

Selama saya pakai biasanya nge charge ulang pas hari ke 3. Menurut saya, kalo dibandingin dengan pod lain berkapasitas baterai dan output power yang sama, i1 ini lebih baik dari segi baterai dan power.

Powernya konsisten, drop nya lebih lambat. Lebih awet buat daily.  


Cara ganti mode Joiway i1
illustrasi cara ganti mode Joiway i1

FITUR GANTI MODE

i1 punya fitur ganti mode, sebutannya sih Aroma & Icy. Caranya tinggal lepas pasang cartridge selama 3x. Kalo udah berhasil masuk mode Aroma, indikatornya bakal nyala berwarna pink, sedangkan mode Icy warnanya putih. Dari deskripsinya, kedua mode ini sama sama menaikkan level manis, tapi mode Icy lebih cocok kalau dipakai dengan liquid dingin. Dingin & manisnya lebih naik. Sedangkan Aroma, cocoknya dipake ke liquid creamy, dan bacco, pokonya yang ga ada dingin dinginnya.

Apakah ada perbedaan ditiap mode?

Ada. Tapi bukan yang beda banget. Sedikit berbeda kalau diperhatikan secara detail. Yang jelas ga sampai merusak penyajian layer dari liquid.

 

KEKURANGAN JOIWAY i1 MENURUT SAYA

Diatas sudah saya bahas beberapa poin plusnya, sekarang saya bahas minusnya. Tapi ini berdasarkan pendapat pribadi saya selama menggunakan i1 sebagai daily device.

1.     Suara Buzzing Yang Cukup Kenceng Pada Posisi Baterai Full/Penuh

Yang saya perhatiin suara buzzing ini cukup kenceng, dan terjadi pada saat dipuff dalam kondisi baterai pod penuh alias 100%. Kalau pas kodisi baterai turun, suaranya masih ada namun tipis, hanya terdengar samar aja.

2.     Cara Ganti Mode Terbilang Gampang-Gampang Susah

Secara teori, cabut-pasang cartridge selama 3x terdengar mudah, tapi pas dipraktekin cukup repot juga kalau belum terbiasa. Cara jitunya cukup cabut cartridge setengah aja, ga perlu full sampe keluar semua, dan dilakuin secara cepat. Kalau full dicabut terus pasang seringya sih gagal.

Ada baiknya sih dibikin tombol atau switch tersendiri buat ganti mode.

Dua aja, dan menurut saya bukan major deal breaker setelah mempertimbangkan dari semua aspek. Banyak plus daripada minusnya.  

 

Isi kotak Joiway i1
Yang didapat ketika beli

APAKAH LAYAK DIBELI?

Menurut saya… Ya. Layak dibeli. Setelah dipikir-pikir, pod ini memenuhi kriteria yang saya butuhkan dan inginkan. Dipakai buat liquid manis, bisa banget. Buat liquid yang ga manis pun masih bisa.

Dengan harga dibawah 200 Ribu, kalian bisa dapat device dengan build quality yang bagus, ditambah jaminan garansi seumur hidup, performa secara keseluruhan juga oke. Mau yang ada fiturnya? Ini juga ada. Mau yang ada pengaturan airflownya? Ada juga.

 

SEDIKIT KONKLUSI BUAT KALIAN TIM MENDANG-MENDING

Kalian mungkin berpikir bahwa “Ketika sebuah produk jarang ada yang pake = produk jelek” Belum tentu benar begitu.

“Mending main aman, beli barang yang udah banyak dipake orang aja”

Tapi….

“Banyak yang pake = pasti bagus”

Belum tentu benar juga, nyatanya masih ada dan banyak juga produk popular, yang dipake orang banyak tapi tidak luput juga dari masalah.

Pada akhirnya, ramai atau tidaknya sebuah produk bukan satu-satunya ukuran buat menentukan apakah produk tersebut layak dibeli.

Yang lebih penting adalah apakah produk tersebut memang sesuai dengan kebutuhan, selera, dan budget kalian.

Karena yang menggunakan produknya nanti bukan orang lain. Tapi Kalian sendiri.

Jadikan tulisan ini sebagai masukan, bukan patokan.

 

 

 

Komentar