DISCLAIMER : REVIEW INI DIBUAT BERDASARKAN SUDUT PANDANG SAYA SEBAGAI PENGGUNA, DIBUAT SE-OBJEKTIF MUNGKIN.
![]() |
| Editan, tapi bukan AI |
Pod
device zaman sekarang sudah mengalami banyak perkembangan. Nggak cuma terbatas
untuk penggunaan liquid salt nicotine, sekarang sudah banyak pod device yang
bisa digunakan dengan liquid freebase, tentunya selama tersedia opsi cartridge
dengan resistensi yang sesuai.
Produsennya
semakin banyak, pilihan produknya apalagi.
Tapi
justru disitu masalahnya. User punya banyak pertimbangan sebelum akhirnya
memutuskan memilih sebuah produk. Mulai dari wujud produknya, harga,
ketersediaan device dan cartridge, durability device maupun cartridge, sampai
layanan aftersales.
Saya
yakin, hampir semua user pernah punya pemikiran yang sama:
“Terlanjur
beli, ternyata zonk.”
Takut
kecewa dan salah pilih.
Apalagi
di kondisi ekonomi sekarang. Semua serba nggak mudah. Cari duit nggak semudah
yang dibayangkan, tapi buat mengeluarkannya kadang gampang banget.
Jadi
sebelum membeli sebuah device, menurut saya wajar kalau kita nggak cuma melihat
spesifikasi atau sekadar ikut tren. Yang lebih penting adalah apakah produk
tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi kita.
![]() |
| Tampak Depan |
KENAPA JOIWAY i1?
Sewaktu
saya mampir ke vapestore langganan, kebetulan Joiway sedang buka mini booth
untuk open tester. Ada beberapa device yang bisa dicoba, salah satunya si i1.
Pikir
saya, selama nyobainnya gratis, apa salahnya?
Saya
langsung ajak ngobrol staff-nya dan cerita kalau memang sedang mencari pod
untuk dipakai dengan liquid freebase. Nggak lama, saya disodori i1 ini untuk
dicoba.
Saya
diminta mencoba dua cartridge 0,4 Ohm yang sudah diisi dua liquid berbeda. Satu
creamy pastry dan satunya fruity dingin. Sayangnya, ketika saya tanya lebih
lanjut, staff-nya nggak menyebutkan secara spesifik merek liquid yang
digunakan.
Impresi
pertama saat mencoba ternyata cukup memenuhi apa yang saya cari. Dari segi
karakter flavor dan kenyamanan, keduanya cocok dengan preferensi saya.
![]() |
| Gambar pecah dikit |
Tapi…
nggak berhenti di situ.
Saya
coba tanya lebih jauh mengenai produknya. Salah satu poin yang menurut saya
menarik adalah Joiway berani memberikan garansi seumur hidup untuk cacat
produk pada device, selama kerusakan tersebut bukan disebabkan oleh
kesalahan user.
Misalnya,
ketika membeli dan saat unboxing ternyata device nggak mau menyala, mereka
bersedia mengganti device tersebut dengan unit baru. Tentunya dengan syarat box
dan nota pembelian masih lengkap.
Menurut
saya, ini menjadi nilai plus yang cukup menarik.
Soalnya,
ada beberapa produsen yang memang memberikan garansi unit, tapi waktunya
terbatas. Belum lagi proses klaim yang kadang lama, ribet, dan responnya yang
lambat.
Tapi
garansi seumur hidup?
Jujur,
buat saya ini cukup berani.
i1 SEBAGAI DAILY DEVICE
Dari
pengalaman open tester tadi, akhirnya saya putuskan untuk memboyong pulang satu
unit i1 untuk digunakan sebagai daily device.
Tapi
namanya nyobain di booth tentu akan berbeda dengan menggunakan produk ketika
sudah dibeli. Di sini baru kelihatan apakah impresi pertama saya terhadap i1
memang selaras dengan pengalaman setelah dipakai sehari-hari.
![]() |
| Tampak Belakang |
SOAL BENTUK & KENYAMANAN
Dimensinya
terbilang pas ketika digenggam. Walaupun memang secara bobot agak berat karena
material bodinya menggunakan zinc alloy. Tapi bukan masalah buat saya, malah
kesannya jadi barang premium.
Finishing bodinya juga bagus. Bukan tipe yang
ketika digenggam lama-lama bakal terasa licin. Ditambah aksen leather di bagian
depan dan belakang bodi, jadi makin kelihatan cakep. Nggak semua varian warna
menggunakan aksen leather ya. Kalau nggak salah, cuma dua warna yang
menggunakannya.
Masuk kantong baju maupun celana masih aman. Mau
dikalungin pun juga bisa, karena di paket pembelian sudah dikasih lanyard.
LED indikatornya berada di tengah bodi pod.
Bentuknya memanjang, tapi ternyata nggak semua bagian LED tersebut menyala.
Entah kenapa mesti dibikin panjang banget. Cuma setengah lebih sedikit bagian
memanjang ke bawah yang menyala setiap kali dipuff, saat cartridge dipasang,
atau ketika mengganti mode.
Autodraw-nya juga berfungsi dengan baik. Nggak
terasa ada delay sepersekian detik. Lancar jaya. Pod ini nggak punya tombol,
jadi satu-satunya cara untuk menggunakannya memang lewat autodraw.
Slider airflow-nya agak seret. Ya... mungkin karena
masih baru juga, tapi sejauh ini masih fungsional. Terasa ada perbedaan tiap posisi
slider diubah, jadi ga cuman gimmick semata.
![]() |
| Dipakein freebase 40PG / 60VG |
SOAL RASA & TARIKAN
Cartridge 0,4 Ohm saya pakai dengan liquid ELPRO Blueberry Cheesecake 6mg, sedangkan yang 0,8 Ohm menggunakan MANHATTAN French 9mg. Keduanya sama-sama liquid freebase dengan rasio 50/50, dan saya sudah cukup familiar dengan karakter flavor kedua liquid ini.
Di 0,4 Ohm, flavor-nya cukup memuaskan.
Blueberry dominan, diikuti cheesecake yang terasa medium. Throat hit cuma
terasa di awal drip. Gatel-gatel tipis, tapi setelah 4x puff ke atas sudah
nggak terlalu terasa. Headbuzz tetap ada.
Polanya naik perlahan. Semakin sering dipuff,
semakin terasa di kepala. Tarikannya juga halus, bukan yang sekali puff
langsung galak.
Slow... enak buat nyantai.
Airflow-nya nggak saya ubah, tetap terbuka full dan
masih terasa cukup padat.
Manis?
Ada, tapi tergolong sedikit. Sesuai standar bawaan liquid-nya saja. Nggak diboost. Lebih condong menjaga layer flavor.
Pindah ke 0,8 Ohm, flavor-nya juga pas.
Dominan vanilla dibalut rum, sementara cake keluar tipis-tipis sebagai hint
pelengkap.
Throat hit terasa sama, galak diawal saja. Tapi
headbuzz atau nicotine hit-nya naik jadi sedikit lebih galak. Tiap puff juga
masih terasa halus. Setting airflow ditutup setengah sudah pas buat saya.
Manis?
Tipis banget. Sesuai bawaan liquid-nya saja.
![]() |
| 0,4Ohm base merah & 0,8Ohm base hitam |
KETAHANAN CARTRIDGE JOIWAY i1
Dengan
standar pemakaian saya pribadi, kedua cartridge 0,4 Ohm dan 0,8 Ohm bisa
bertahan 2 minggu. Kalaupun dipaksa ya… 2 minggu lebih 3 hari baru ganti.
Saya
bukan tipe orang yang tiap menit nge-puff, tapi sekali puff nariknya lumayan
panjang.
Pernah
coba coba buat chainpuff juga ternyata aman, ga ada bubbling, gurgling, apalagi
dry hit. Daya resapnya termasuk cepet.
Ingat
ya! Standar anjuran penggantian cartridge itu 2 minggu. Supaya kalian tetep
dapat flavor yang oke. Jangan dipaksa sampe sebulan! Rasanya udah gajelas.
Selama
pakai 0,4 Ohm saya perhatikan ga ada sisa kondensasi yang numpuk diarea pin
atomizer. Kering.
Di
0,8 Ohm cuma ada setitik aja, kecil dan ga bertambah besok besoknya.
Leaking
juga ga terjadi pada keduanya. Bagian bawah cartridge tetep kering.
![]() |
| Kering tanpa harus sedia tissue |
BATERAI 1500mAh
Selama
saya pakai biasanya nge charge ulang pas hari ke 3. Menurut saya, kalo
dibandingin dengan pod lain berkapasitas baterai dan output power yang sama, i1
ini lebih baik dari segi baterai dan power.
Powernya
konsisten, drop nya lebih lambat. Lebih awet buat daily.

illustrasi cara ganti mode Joiway i1
FITUR GANTI MODE
i1
punya fitur ganti mode, sebutannya sih Aroma & Icy. Caranya tinggal lepas
pasang cartridge selama 3x. Kalo udah berhasil masuk mode Aroma, indikatornya
bakal nyala berwarna pink, sedangkan mode Icy warnanya putih. Dari
deskripsinya, kedua mode ini sama sama menaikkan level manis, tapi mode Icy
lebih cocok kalau dipakai dengan liquid dingin. Dingin & manisnya lebih
naik. Sedangkan Aroma, cocoknya dipake ke liquid creamy, dan bacco, pokonya
yang ga ada dingin dinginnya.
Apakah
ada perbedaan ditiap mode?
Ada.
Tapi bukan yang beda banget. Sedikit berbeda kalau diperhatikan secara detail.
Yang jelas ga sampai merusak penyajian layer dari liquid.
KEKURANGAN JOIWAY i1 MENURUT SAYA
Diatas
sudah saya bahas beberapa poin plusnya, sekarang saya bahas minusnya. Tapi ini berdasarkan
pendapat pribadi saya selama menggunakan i1 sebagai daily device.
1. Suara
Buzzing Yang Cukup Kenceng Pada Posisi Baterai Full/Penuh
Yang saya perhatiin suara buzzing ini cukup kenceng, dan terjadi pada saat dipuff dalam kondisi baterai pod penuh alias 100%. Kalau pas kodisi baterai turun, suaranya masih ada namun tipis, hanya terdengar samar aja.
2. Cara
Ganti Mode Terbilang Gampang-Gampang Susah
Secara
teori, cabut-pasang cartridge selama 3x terdengar mudah, tapi pas dipraktekin
cukup repot juga kalau belum terbiasa. Cara jitunya cukup cabut cartridge
setengah aja, ga perlu full sampe keluar semua, dan dilakuin secara cepat.
Kalau full dicabut terus pasang seringya sih gagal.
Ada baiknya sih dibikin tombol atau switch tersendiri buat ganti mode.
Dua
aja, dan menurut saya bukan major deal breaker setelah mempertimbangkan dari
semua aspek. Banyak plus daripada minusnya.
APAKAH LAYAK DIBELI?
Menurut
saya… Ya. Layak dibeli. Setelah dipikir-pikir, pod ini memenuhi kriteria yang
saya butuhkan dan inginkan. Dipakai buat liquid manis, bisa banget. Buat liquid
yang ga manis pun masih bisa.
Dengan
harga dibawah 200 Ribu, kalian bisa dapat device dengan build quality yang
bagus, ditambah jaminan garansi seumur hidup, performa secara keseluruhan juga
oke. Mau yang ada fiturnya? Ini juga ada. Mau yang ada pengaturan airflownya?
Ada juga.
SEDIKIT KONKLUSI BUAT KALIAN TIM MENDANG-MENDING
Kalian
mungkin berpikir bahwa “Ketika sebuah produk jarang ada yang pake = produk
jelek” Belum tentu benar begitu.
“Mending
main aman, beli barang yang udah banyak dipake orang aja”
Tapi….
“Banyak
yang pake = pasti bagus”
Belum
tentu benar juga, nyatanya masih ada dan banyak juga produk popular, yang dipake
orang banyak tapi tidak luput juga dari masalah.
Pada
akhirnya, ramai atau tidaknya sebuah produk bukan satu-satunya ukuran buat
menentukan apakah produk tersebut layak dibeli.
Yang
lebih penting adalah apakah produk tersebut memang sesuai dengan kebutuhan,
selera, dan budget kalian.
Karena
yang menggunakan produknya nanti bukan orang lain. Tapi Kalian sendiri.
Jadikan tulisan ini sebagai masukan, bukan patokan.









Komentar
Posting Komentar